Arc de Triomphe Dari Kediri

Indonesia, Kediri

2

Jawa Timur kini makin menunjukkan kekuatan di ranah pariwisata. Tak hanya berharap dari Surabaya yang kini makin dikenal sebagai kota bisnis, nama-nama seperti Malang, Batu, Jember dan Banyuwangi mulai pasang aksi. Tentu saja ini menjadi hal baik bagi kita semua. Tentunya kebangkitan daerah-daerah ini juga disusul oleh kota lainnya. Sebut saja Kediri.

Kediri namanya terangkat melalui Gunung Kelud yang masih dicap sebagai gunung berapi aktif. Insiden erupsi gunung beberapa tahun silam tentu saja masih membekas di ingatan. Kita melihat sendiri bagaimana imbasnya tidak hanya melumpuhkan kehidupan di Kota Kediri semata, tapi juga merambah hingga Nganjuk, Malang dan Yogyakarta.

Kini tak ada lagi duka yang membekas karena Kediri sudah jauh lebih berkembang pasca musibah alam tersebut. Ketika saya mengitari kota ini untuk pertama kali, nampak kota ini tak main-main dalam menunjukkan progres dalam hal modernisasi. Sudah waktunya untuk berubah menjadi lebih baik lagi, terutama dalam memenuhi kebutuhan meyangkut pariwisata.

Suatu malam di Kediri saya berjumpa dengan Simpang Lima Gumul (SLG) yang merupakan monumen ikonik di kota ini. Orang Kediri menyanjungnya sebagai Arc de Triomphe-nya Kediri. Tahu kan Arc de Triomphe? Itu lho monumen penting di Kota Paris, Prancis yang dibangun untuk menghormati para pejuang yang bertempur saat Revolusi Prancis dan Perang Napoleon. Nah, kenapa SLG diibaratkan seperti monumen tersebut? Karena rupanya tak berbeda jauh dengan Arc de Triomphe. Letaknya pun di jalanan utama kota. Simpang Lima Gumul sendiri terletak di Jalan Raya Dadapan, Tugurejo. Dekat dengan Pasar Tugu.

Memang tak banyak yang mengetahui pasti SLG ini terinspirasi dari mana. Tapi beberapa menyebutkan bangunan ini terilhami oleh Jongko Joyoboyo, Raja Kediri pada abad ke-5. Ia berniat ingin menyatukan lima wilayah di Kediri saat itu. Monumen yang diresmikan pada tahun 2008 ini memiliki tinggi 25 meter dengan enam lantai. Yang mempercantik monumen ini dapat dilihat dari relief-relief yang terukir. Gambar-gambar yang dipatri berbicara mengenai sejarah Kediri hingga hal-hal bertema seni dan budaya kekinian. Terdapat pula arca Ganesha di satu sudut.

Jika menelusuri bagian dalamnya, di sini terdapat ruang-ruang untuk pertemuan di gedung utama dan ruang auditorium di lantai atas. Di sini juga terdapat ruang serba guna di lantai bawah, diorama serta toko suvenir. Memang ke depannya SLG sendiri akan menjadi sentra ekonomi dan perdagangan. Di sekitaran sini juga akan dibangun hotel, pusat perbelanjaan dan pusat grosir. Tapi saat saya mengunjungi SLG di malam hari, monumen ini menjadi salah satu tempat berkumpulnya warga Kediri. Hanya untuk duduk santai, berbincang satu sama lain. Beberapa ada yang niat membawa perlengkapan piknik karena area sekitaran ditumbuhi rumput dan bisa digunakan sebagai alas duduk. Ya bisa juga dijadikan semacam alun-alun kota.

Nah untuk memasuki area sekitaran SLG, Anda bisa melalui tiga akses jalan masuk. Jalan masuk ini bisa ditemui dekat pelataran parkir yang tersebar di beberapa titik. Jika ingin merasakan Kediri dalam balutan kultur lokal, coba deh datang di Sabtu malam. Kerlap-kerlip lampu dan bintang-bintang di langit memberi efek menyenangkan. Bagi yang menyukai fotografi, bisa banget nih menjadikan Simpang Lima Gumul sebagai objek potret. Atau bisa juga datang Minggu pagi kawasan ini kerap menjadi lahan terbaik bagi penduduk untuk olahraga dan rekreasi. Terdapat juga penjaja kaki lima jika Anda ingin mencari camilan sebagai pelengkap suasana. (pjlp)

Social Share