Di Bukit Doa Orang Enggan Memejamkan Mata

2

Sebuah monumen besar berbentuk dua tangan menelungkup mengarah ke hamparan lembah berhutan pinus dan bentang Danau Toba yang teduh. Ini Bukit Doa, lokasi yang dibangun untuk mereka yang gemar berdoa. Lantas apakah bisa untuk berwisata?

Berwisata di tempat ini tak ubahnya berdoa. Memanjatkan syukur atas keindahan ciptaan Sang Khalik yang terhampar di depan sana. Di sini yang berdoa enggan memejamkan mata. Untuk apa mata terpejam, jika di depan mata Tuhan sedang menunjukkan keagungan ciptaanNya. Mungkin Tuhan juga lebih senang jika kita membuka mata menikmati pesonanya.

Jarak dari Bandara Silangit tak lebih dari 30 menit menggunakan mobil. Sayangnya cara paling efektif ke tempat ini hanya dengan mencarter mobil. Ini masih daerah Huta Ginjang, Kecamatan Muara, Tapanuli Utara. Kebetulan saya sebelumnya singgah di Huta Ginjang View Point atau Huta Ginjang Panatapan, yang jaraknya kurang dari 10 menit dari Bukit Doa ini. Ketinggian kedua lokasi ini berkisar di 1500an mdpl. Jadi udara sejuk cenderung dingin ini perlu diantisipasi. Apalagi jika angin bertiup kencang, dinginnya cukup lumayan. Sediakan jaket atau wind breaker untuk menahan tiupan angin.

Di Bukit Doa ini, persis di bawah monumen tangan berdoa, terdapat 26 bilik doa yang bisa digunakan oleh mereka yang memang berniat khusuk berdoa. Bilik yang menghadap ke panorama Danau Toba ini seperti susunan 6 tingkat etalase kaca yang bisa melindungi para pendoa dari terpaan udara dingin. Kalau saya lebih suka berdiri atau berkeliling, menikmati keindahan yang sungguh memukau. Alam yang elok, danau yang mempesona, dan udara segar sembari membilas paru-paru yang disesaki polutan udara dari perkotaan.

Di area sekitar sini ada warung-warung makan yang bisa kita singgahi untuk sekadar makan atau minum. Tapi saran saya berkelilinglah, sediakan waktu yang cukup untuk memanjakan mata Anda dan berinteraksi dengan masyarakat setempat. Makannya nanti saja kalau sudah puas berkeliling.

Selain pemandangan Danau Toba dari Monumen Tangan Berdoa, cobalah menyusuri jalanan aspal yang menurun arah balik dari ketika kita datang, tidak jauh. Jika beruntung di sisi kiri jalan saat sore bisa Anda temukan gerombolan kerbau yang sedang diangon para bocah. Dengan tongkat kayu kecil dan kantong mungil tempat perbekalan yang tergantung di bahu, mereka mengarahkan kerbau-kerbau itu menuju tanah lapang berumput hijau. Tak jarang burung-burung bangau setia menemani, menanti serangga lengah yang gemar menclok di badan kerbau-kerbau ini.

Sementara latar belakang hamparan Danau Toba yang cantik di bawah sana, membuat pemandangan iring-iringan kerbau-kerbau yang sedang digembalakan itu jadi sangat eksotis. Bocah-bocah penggembala ini kalau diajak ngobrol masih malu-malu, tapi sesungguhnya mereka asyik kog kalau sudah cukup lama berinteraksi.

Pemandangan yang begitu mempesona terkadang membuat kita lupa diri dan kurang waspada. Sembari mengikuti arah kerbau-kerbau itu digembalakan, saya asyik membidikan kamera. Saya ingin mengabadikan moment keren ini sebelum saya melanjutkan perjalanan ke destinasi wisata lainnya di sekitar Danau Toba. Tapi mendadak saya merasakan menginjak sesuatu yang lembut dan hangat. Ah, sial kotoran kerbau rupanya. Saya tak menemukan kali atau sungai yang bisa untuk mencuci bonus istemewa yang saya dapat sore itu. Terpaksa mesti mengguyurkan air mineral bekal minum.

Tapi kesialan saya tak bisa menghapus keindahan pesona wisata di daerah Huta Ginjang ini yang sudah melekat di hati. Saya cuma agak khawatir dengan ekspresi teman seperjalanan di mobil nanti, karena mereka tahu saya baru saja menginjak kotoran kerbau.

Social Share