Kereta Bandara, Kenapa Baru Sekarang

Indonesia, Jakarta

2

Senang, begitulah rasanya ketika mendengar rencana dibangunnya rute kereta api menuju Bandara Soekarno-Hatta (Soeta) beberapa tahun silam. Apalagi jika mengingat kerapkali kita mesti waswas ketinggalan pesawat saat di jalan tol menuju bandara terjebak kemacetan. Dan kali ini saya mencoba menggunakan moda transportasi antimacet ini di hari pertama Railink memperkenalkan jalur baru itu ke publik.

Saya mau berbagi pengalaman menjajal moda transportasi dambaan para traveler ini.

Cara Pembelian Tiket
Beli tiket kereta bandara ini mesti cashless alias nontunai. Jangan bayangkan ada loket penjualan tiket di stasiun, yang tersedia adalah vending machine. Silahkan beli menggunakan kartu kredit atau kartu debit. Tiket langsung dicetak di situ. Jika masih bingung ada petugas superramah berdiri di samping mesin dan dengan sigap siap membantu.

Kalau saya memilih membeli tiket secara online. Supaya lebih memastikan tidak kehabisan tempat duduk. Apalagi dalam bayangan saya bisa terhindar dari antrian di vending machine. Sayangnya, setelah kita membayar tiket menggunakan ebanking, tidak ada konfirmasi dari sistem Railink, jadi kita tidak bisa tahu apakah tiket berhasil dibeli atau tidak. Mestinya jika pembayaran berhasil, sistem ini otomatis bisa langsung mengirimkan tiket via email, seperti sistem ticket online pada umumnya.

Di website railink.co.id saya mencoba cari nomer telepon customer service untuk sekadar bertanya, tapi tidak menemukan. Akhirnya menemukan alamat email info@railink.co.id. Coba kirim email tapi tidak ada respon. Saya cetak saja file pdf booking yang masih ada keterangan "NOT PAID", padahal sudah saya bayar lunas. Saya buru-buru ke stasiun supaya ada kesempatan mencari tahu cara memperoleh tiketnya.

Benar saja, di stasiun saya mesti ikut antri di vending machine, dan berkat bantuan petugas saya mencetak tiket. Cukup memasukan kode booking. Ini tentunya kurang efektif, masak sudah beli tiket online tapi tetap ngantri. Tapi, saya yakin Railink bakal memperbaiki sistem ticketing mereka di waktu dekat.

Lokasi dan Nama Stasiun
Kereta Bandara berangkat dari Stasiun Manggarai berhenti di Stasiun Sudirman Baru (BNI City), Stasiun Batuceper dan pemberhentian terakhir di Bandara Soekarno-Hatta. Namun di hari pertama laju percobaan ini kereta berangkat dari Stasiun Sudirman Baru, karena Manggarai belum siap.

Jangan salah, Stasiun Sudirman Baru berbeda dengan Stasiun Sudirman. Lokasinya hanya bersebelahan saja, Stasiun Sudirman Baru berada di Jalan Blora. Untuk ke sana mesti melewati underpass. Tukang ojek online yang mengantarkan saya juga sempat keliru.

Nama Stasiun pun mestinya ditetapkan satu saja supaya lebih mudah dikenali, terutama para turis yang mungkin baru pertama kalinya menggunakan moda transportasi ini. Jika memang mau membranding Stasiun Sudirman Baru dengan BNI City, mestinya cukup ditetapkan dengan brand BNI City. Terlihat sepele tapi buat orang asing ini bisa membingungkan dan mengurangi kenyamanan. Padahal kan slogan pariwisatanya "Enjoy Jakarta".


Tata Letak Gate System
Gate untuk taping tiket masuk ke peron stasiun berada di lantai 2. Antrian bergerombol tak beraturan karena gate dibuat tegak lurus dengan bagian tengah ruang yang menyempit. Ini membuat antrian penumpang yang hendak masuk maupun yang keluar gate jadi tidak cukup ruang dan berjejalan. Alangkah baiknya jika jajaran gate dibikin sedikit serong, sehingga antrian bisa mengambil ruang memanjang.

Penataan gate yang kurang optimal membuat tumpukan antrian penumpang

Demikian halnya dengan situasi di shelter Bandara Soeta. Antara penumpang yang baru datang dan yang akan masuk ke peron menggunakan gate yang sama. Ini sangat tidak efektif. Tak terbayang jika jumlah penumpang lagi padat bakalan makin semrawut. Mestinya dibuat ruang buffer untuk menampung penumpang yang masuk dan keluar, sehingga antrian tidak terkonsentrasi di area gate. 

Para penumpang menunggu giliran masuk peron mesti sabar berdiri


Perilaku Penumpang
Namanya juga masih uji coba, jadi memang masih cukup banyak yang perlu disempurnakan. Masa pengenalan jalur baru Railink ini rupanya mendapat respon yang cukup antusias dari publik. Hari pertama saja 4000 penumpang yang menjajal kereta keren bikinan INKA Madiun ini.

Sayang sekali jika kereta yang dibuat dengan anggaran tak kurang dari Rp 700 M ini tidak dijaga kebersihannya. Sudah semestinya dalam kereta tidak boleh makan atau minum, karena bisa mengotori. Memang tidak ditemukan tempat sampah di dalam gerbong. Tapi tanda peringatan larangan makan atau minum pun tidak ada di dalam kereta. Mungkin belum sempat ditempel. Sehingga para orangtua yang membawa serta anaknya bisa leluasa makan mie instant dan berpotensi mengotori kursi dan lantai.


Kereta Buatan INKA
Saya nyaris tak percaya, kereta mulus nan kinclong ini bikinan Industri Kereta Api (INKA). Saya awalnya menduga ini kereta bikinan Korea. Rupanya PT INKA berhasil memenangkan tender bernilai Rp 700 M ini mengalahkan perusahaan Korea dan Cina. Dan hasilnya karyanya memang keren.

Sudahi saja pesan-pesan ke perusahaan asing, jika bangsa sendiri memang sudah mampu meproduksi. Sekali waktu sok nasionalis ah.


Integrasi dengan Moda Transportasi Lain
Integrasi adalah kata kunci untuk efisiensi. Karena dengan integrasi banyak fungsi yang bisa disatukan dan disinergikan sehingga banyak resources yang bisa dihemat tanpa mengurangi kualitas layanan, bahkan justru meningkatkan.

Saat ini hanya bisa membayangkan, sederhana saja, ada lorong penghubung antara Stasiun Sudirman dan Stasiun Sudirman Baru, sehingga para penumpang KRL yang dari Stasiun Tanah Abang yang hendak ke Stasiun Sudirman Baru tak harus keluar Stasiun dan berjalan kaki melewati trotoar sempit di bawah underpass. Jelas tidak aman dan kurang nyaman. Tapi mungkin saat ini memang itu belum dibuat. Dugaan saya, sekalian menunggu proyek MRT selesai, sehingga bisa sekalian diintegrasikan dengan moda kereta bawah tanah itu.


Tenant Pendukung
Kereta Bandara membawa kepastian pada kecepatan dan ketepatan waktu mencapai pusat kota. Para pelancong yang kebetulan transit di Bandara Soeta bisa jadi, sembari menunggu jadwal penerbangan selanjutnya, akan mempertimbangkan untuk sejenak mengisi waktu dengan menikmati suasana Jakarta. Mereka bisa membuat perkiraan yang lebih presisi sehingga tak khawatir bakal tertinggal jadwal terbangnya.

Turis datang, mesti disambut dengan kemudahan bagi mereka memperoleh informasi tentang Jakarta dan Indonesia. Tenant-tenant terkait industri pariwisata mesti diberi tempat yang istimewa. Souvenir, travel agent, money changer, tourist information center, sudah mesti ada. Jika ingin memanjakan wisatawan berbeban berat, tak ada salahnya menyediakan penyewaan deposit box, agar mereka bisa menyimpan barang-barangnya. Dengan begitu mereka bisa lebih ringan melenggang menikmati Jakarta tanpa mesti menenteng bawaan yang tidak perlu.


Rekreasi dan Atraksi
Melihat betapa antusias para penumpang yang mencoba menggunakan Kereta Bandara ini, mungkin perlu dipertimbangkan untuk memperluas sasaran. Bukan tidak mungkin jika area Bandara Soeta disediakan zona-zona untuk rekreasi dan wahana atraksi yang edukatif, bisa menjadi destinasi baru warga Jakarta untuk refreshing bersama keluarga. Destinasi yang mudah dijangkau dengan moda kereta api yang handal dan nyaman. Jadi pengguna Kereta Bandara tak melulu mereka yang hendak bepergian menggunakan pesawat, tapi juga mereka yang hendak berekreasi.

Kereta Bandara ini adalah pelayanan publik yang sudah sangat tepat diwujudkan untuk mengatasi masalah transportasi menuju bandara. Hanya saja, kenapa baru sekarang ini bisa diwujudkan. Apa kita sebegitunya sehingga pada masa lalu tak kunjung menciptakan solusi untuk masalah yang sudah demikian mendera. Mungkin ini memang saatnya kita tak lagi mengutuki masa lalu. Ini saatnya membenahi yang memang keliru dan melaju mengejar ketertinggalan. (dkw)

Social Share