Wisata Pulau Pari dan Nasib Terumbu Karangnya

Indonesia, Jakarta

2

Pernah suatu ketika di suatu siang yang terik saya berbincang dengan beberapa penduduk Pulau Pari yang sedang nongkrong santai di tepian pantai. Di sela kegiatan bersih-bersih terumbu karang di sekitar pulau dari belitan sampah, saya menyempatkan menikmati obrolan santai itu. Kebetulan kami sedang membahas kehebohan Pulau Tidung yang mendadak populer dan diserbu wisatawan setiap akhir pekan. Sepertinya bapak-bapak ini tak ingin wisata Pulau Pari bernasib sama dengan Pulau Tidung, menjadi riuh dengan ribuan pelancong yang memenuhi pulau.

"Air sumur di Pulau Tidung jadi asin, tidak segar lagi", begitu tutur salah seorang dari mereka. 

Jelas saja pulau yang tak seberapa luas dikepung laut itu tak bakalan cukup menyediakan air resapan hujan di dalam tanahnya jika mesti disedot habis-habisan untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan yang setidaknya menginap semalam di sana. Relung air yang kosong di daratan pulau tak ada lagi yang mengisi selain air laut yang mengintrusi mengisi sumur-sumur warga.

Apa yang terjadi di Pulau Tidung kini dialami Pulau Pari. Kian membludaknya kunjungan ke Pulau Tidung yang mulai tak kuasa menampung semua, mesti ada pulau lain yang bisa menampung tumpahan quota kunjungan yang tidak sedikit itu. Pulau Pari tak berdaya, tak ada yang mampu membentengi diri diserbu godaan agen-agen perjalanan wisata yang tak mau kehilangan potensi pertumbuhan incomenya. Juga, tentu saja, peran pemerintah yang tak punya solusi mengatasi segala dampak kerusakan yang sangat mungkin ditimbulkan. Atau mungkin memang tak menganggapnya cukup dibela terkait kepentingannya sendiri-sendiri.

 

Terumbu Karang yang Rentan di Wisata Pulau Pari

Ekosistem terumbu karang di sekitar Pulau Pari memang sangat mempesona, apalagi ketika air sedang tak keruh oleh partikel-partikel yang dibawa gelombang laut. Terumbu karang yang sehat dan ikan-ikan karang yang ramai, sungguh menyenangkan bisa menyaksikannya. Gugusan terumbu karang itu pastilah terbentuk dalam waktu yang sangat lama, mungkin seiring dengan terbentuknya Pulau Pari. Butuh waktu lebih dari masa satu generasi untuk memunculkan eksosistem terumbu karang yang kokoh.

Tapi, sayangnya kini mungkin Anda tak akan menjumpai lagi keindahannya seperti semula. Serbuan ribuan wisatawan di tiap akhir pekan melantakkan apa yang semestinya kita jaga sebaik-baiknya. Hanya butuh satu kecerobohan untuk menghancurkan ekosistem yang perlu waktu begitu lama terbentuk. Dan kecerobohan yang terjadi bukan hanya sekali, tapi setiap akhir pekan bisa kita jumpai ratusan wisatawan snorkling di setiap spot terumbu karang. Sungguh menyedihkan.

Wisata Pulau Pari memang menggenjot perekonomian masyarakat lokal, dan tentu saja income pemerintah daerah. Tapi, apakah itu cukup sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan? Lagi-lagi butuh waktu yang sangat lama untuk memulihkan dan tentu saja biaya yang pasti tidak kecil. Belum lagi komitmen yang mesti terus terjaga agar perbaikan tak terjeda perilaku ceroboh berikutnya. 

Ekosistem terumbu karang yang rentan rusak ini butuh kemauan dan komitmen pemerintah untuk melindunginya. Tapi, berharap pada kemauan pemerintah untuk segera membuat tindakan cepat seperti bermimpi di siang bolong. Apalagi jika melihat hiruk-pikuk dan sibuk bertikai di antara mereka. 

 

Edukasi Perilaku Ramah Lingkungan di Wisata Pulau Pari

Mencari teladan pada figur-figur publik di atas sana sepertinya tak bakal banyak yang bisa ditemukan. Para penggemar aktivitas jalan-jalan ini yang mesti mulai menumbuhkan kesadaran pentingnya menjaga kelestarian objek wisata. Siapa saja yang punya kesadaran mesti menyatukan tekad dan berbuat untuk secepatnya menghentikan laju kerusakan yang makin kencang itu. 

Para pegiat traveling nusantara mesti bergandeng tangan, bahu-membahu memadukan sumber daya dan kemampuan yang ada, mulai bergerak aktif melakukan edukasi perilaku ramah lingkungan dalam berwisata. Eco-tourisme tak jadi sekadar slogan marketing wisata, namun benar-benar mesti diwujudkan dalam perilaku berwisata. 

Tak perlu menunggu, siapa saja yang sudah punya kesadaran wisata ramah lingkungan segera mencari yang punya kesadaran serupa dan mulai mengedukasi peer groupnya atau lingkungan terdekatnya. Ayo, berwisata dengan gembira dan selalu menjaga kelestarian destinasi pariwisata. (dkw)

 

Social Share