Naik Ojek ke Kelud

Indonesia, Kediri

2

Beberapa waktu yang lalu teman saya bertanya. Kamu sudah pernah naik gunung? Saya mengaku belum pernah naik gunung manapun. Pernah ke Bromo, tapi ya Bromo bukanlah naik gunung yang sesungguhnya, kan! Sebenarnya pengen banget sih mencoba naik gunung. Ingin tahu rasanya, sensasinya, serunya, juga capainya. Tapi mental saya belum siap untuk menghadapi aral saat menanjak, makanya hingga sekarang belum menjajal satu pun gunung.

Nah, kalau di antara kalian ada yang juga bernasib sama seperti saya tapi masih ingin mencoba menikmati wisata gunung, coba deh ke Gunung Kelud. Di mana kunjungan ke gunung tidak mesti berpeluh dan ngos-ngosan karena cukup dengan naik ojek saja.

Gunung Kelud berada dekat Kota Kediri. Pasca erupsi yang membuat membuat kota-kota sekitarnya terkena imbas, Kelud dan Kediri kembali berdiri tegak dan berbenah diri menyambut mereka yang ingin melihat keangkuhan salah satu gunung berapi yang aktif ini. Perjalanan dari Kota Kediri menuju kawasan wisata Gunung Kelud ditempuh sekitar dua jam tanpa macet. Pemandangannya berupa sawah, kebun, serta rumah penduduk yang saat itu masih terlihat tumpukan abu vulkanik sisa erupsi di bagian depan.

Tiba di pintu masuk terdapat loket untuk membeli tiket. Di sampingnya terdapat jajaran supir ojek dengan motornya. Ternyata mobil yang saya sewa tidak diperkenankan masuk dan sebagai gantinya mesti menyewa ojek buat ke atas. Baiklah. Saya tidak kecewa karena mobil tertahan di luar, tapi malah makin semangat karena akan menaiki sepeda motor. Sepertinya akan lebih seru menaiki kendaraan bermotor roda dua.

Setelah mengambil tas kamera dan sebotol air minum, saya siap bertualang menuju Gunung Kelud dengan ojek. Motor bebek yang saya naiki menembus jalanan dua jalur yang mengapit pemadangan ladang hijau, pepohonan rimbun, perkebunan nanas serta bukit-bukit yang nampak siluet nan jauh di sana.

Jalanan yang sawa lewati tidak mulus dilapisi aspal. Efek erupsi juga menghancurkan infrastruktur sekitar Kelud. Tapi di samping jalanan yang tak mulus, hawa sejuk menjalar ke seluruh tubuh dengan matahari tetap bersinar terang. Hanya butuh sekitar 10-15 menit untuk tiba di atas. Tapi kalau ingin berhenti menikmati pemandangan sekalian memotret, boleh saja kok. Saya sempat berhenti beberapa kali untuk melihat alam Kelud yang hancur akibat erupsi. Lahan hijau berubah menjadi jurang besar yang menganga dengan gusuran tanah dan dan abu yang sudah tak berbentuk rupanya. Rimbunan pohon hancur di sisi lain.

Kemudian saya melanjutkan perjalanan hingga pos terakhir yang hanya berjarak tiga kilometer dari gunung. Karena waktu itu saya datang tak begitu lama pasca erupsi, jadi masih ada larangan untuk mendekati gunung lebih dekat. Kelud sendiri masih mengeluarkan asap belerang saat itu. Dari tempat saya berdiri bisa terlihat kepulan asapnya, tapi gunungnya sendiri tak terlihat karena terhalang bukit.

Kelud sendiri memiliki empat puncak. Tapi karena bencana saya jadi bingung mana Puncak Sumbing dan tiga lainnya. Untuk mengamati lebih dekat bisa menyewa teropong dekat pos penjagaan. Catatan jika ingin mengunjungi Kelud, sebaiknya datang di pagi hari di saat kabut tak menghalangi pemandangan. Sediakan masker agar tidak terekspos abu serta jaket atau syal untuk mengurangi rasa dingin ketika di puncak. Karena aktivitas gunung yang tidak stabil, bisa saja Anda tidak diizinkan untuk melihat dekat kawah, mungkin hanya diperbolehkan melihat dari radius beberapa kilometer saja. Jadi sebaiknya pantau terus perkembangan Kelud sebelum mengunjunginya. (pjlp)

 

 

 

Social Share